GLS Disdik Jabar : Talkshow West Java Leader`s Reading Challenge (WJLRC) sebagai tantangan perwujudan Literasi bagi Para Pelaku Dunia Pendidikan di Jawa Barat

Perwujudan Gerakan Literasi diyakini banyak pihak akan mampu menjadi katalis bagi tercapainya peningkatan kualitas pendidikan nasional. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana gerakan literasi tersebut mampu diaplikasikan secara efektif khususnya dalam lingkungan sekolah, sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi meningkatnya kondisi literasi dalam dunia pendidikan.

Untuk menjawab permasalahan dimaksud, Gubernur Jabar dan Kadisdik Prov. Jabar bekerja sama dengan South Australia Departement for Education and Children Development menyelenggarakan Program West Java Leader`s Reading Challenge (WJLRC). WJLRC ini merupakan sebuah program unggulan hasil kerja sama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Australia Selatan. Dirintis sejak tahun 2012 oleh guru-guru alumni peserta pelatihan di Adelaide Australia, Program inovatif yang kini berada di bawah tanggung jawab Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan telah menjadi bagian dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini mengusung konsep dimana setiap pemimpin pada berbagai tingkat pemerintahan di seluruh Jawa Barat, dari tingkat lurah hingga gubernur termasuk Kepala Sekolah, memberikan tantangan membaca bagi para guru dan siswa di sekolah. Tidak main-main, minimal 24 buku harus bisa dibaca sampe selesai dalam waktu 10 bulan!

Langkah terobosan ini tentu saja menarik perhatian banyak pihak. Atensi masyarakat itulah yang menginisiasi TVRI Bandung sebagai media televisi utama di Jawa Barat untuk menggelar Talk Show yang menghadirkan Dr. Hj. Netty Prasetiyani Heryawan, M.Si yang bertindak sebagai bunda literasi bersama perwakilan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadang Rahman Munandar S.Pd.,M.Pd. Banyak hal menarik yang disampaikan pada acara Talk Show yang diselenggarakan di Gedung Pakuan  Minggu 26-12-2016.

Pada kesempatan itu, secara gamblang sang Bunda Literasi menyampaikan pesan moral bahwa masa depan pendidikan di Jawa Barat akan ditentukan oleh buku apa yang dibaca guru dan anak didik. semakin berkualitas buku yang dibaca, maka akan semakin meningkat tajam wawasan dan pengetahuan yang bisa diperoleh pelaku literasi. Beliau mengharapkan bahwa WJLRC bukan hanya memberikan tantangan dalam bentuk kuantitas, melainkan juga terfocus pada kualitas buku yang harus dibaca. Dan sebagai motivasi bagi seluruh peserta literasi, sudah semestinya disediakan bentuk apreasiasi dan penghargaan yang akan diberikan kepada setiap pihak yang mampu mewujudkan tantangan, baik berupa piagam, medali atau bentuk lain yang sifatnya mengapresiasi dan menumbuhkan motivasi. Beliau meyakinkan kepada setiap pelaku dunia pendidikan bahwa keberhasilan program GLS-WJLRC akan menjadi sebuah lompatan besar bagi peningkatan penyelenggaraan pendidikan di Jawa Barat.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Dadang Rahman Munandar S.Pd.,M.Pd menyampaikan bahwa Disdik Jabar sebagai lembaga penyelenggara pendidikan yang memiliki tanggung jawab terhadap pelaksaaan GLS dan tantangan WJLRC, siap untuk mewujudkan komitmen agar program Literasi dimaksud dapat memberikan kontribusi yang siginifikan bagi peningkatan wawasan dan pengetahuan anak didik dan guru di Jawa Barat. Untuk itu, Disdik jabar akan terus berperan secara aktif dalam mewujudkan penyelenggaraan GLS-WJLRC di setiap daerah Jawa Barat. Di akhir periode tantangan, Disdik jabar telah merencanakan penyelenggaraan Jambore Literasi Jawa Barat tahun 2017 yang diharapkan menjadi ajang apresiasi dan pentas kreasi bagi seluruh pengikut literasi yang berhasil menuntaskan tantangan dalam GLS-WJLRC.

Memperhatikan pelaksanaan GLS-WJLRC, sebuah pemikiran visioner disampaikan Kadisdik Provinsi Jawa Barat, DR. H. Asep Hilman, M.Pd. Apa yang menjadi bahan pemikiran beliau adalah : `Setelah Launching what next?` Dan sebuah gagasan pun beliau cetuskan : `Gerakan SAKALI SANAMI`.

Dengan menyampaikan salam literasi untuk ijin berbagi ketika sedang terbaring tafakur, Kadisdik menyampaikan gagasannya. Suatu istilah yang mungkin terdengar asing bahkan bisa menjadi booming ketika itu disampaikan pada kesempatan dan momen yang tepat. Istilah Om Telolet Om, frase ciptaan anak muda yang bersemangatkan biar alay tapi ngetrend, yang begitu mendunia merupakan sebuah bukti bahwa popularitas bisa diciptakan meskipun istilah itu sendiri tidak memiliki definisi yang jelas dan bahkan terkesan ambigu sehingga bisa menghasilkan banyak tafsir. Sekarang bayangkan, bila bahasa yang dipopulerkan adalah sesuatu yang mengandung arti dan memiliki spirit untuk menghasilkan karya nyata yang positip.

SAKALI SANAMI jika diartikan secara umum pasti memberikan dugaan bahwa itu sebuah kata dalam basa Sunda. Tapi begitu tau artinya, bisa jadi orang akan terbelalak dan terus berpikir untuk bisa mendalami lebih jauh dari makna yang sebenarnya. Apa itu SAKALI SANAMI? Ini sebuah gerakan dan ikhtiar di dunia pendidikan Jawa barat khususnya dalam menggelorakan gerakan Literasi yang sudah ditiupkan dan dikampanyekan secara nasional. Hanya saja pengelolaannya masih bersifat situasional belum menjadi kebutuhan apalagi sebuah budaya. Paling tidak, istilah ini merupakan imperiorisme seorang kadisdik prov yg sedang terkulai.

SAKALI SANAMI adalah sebuah frase yang dimoderasi, direka dan ditajamkan agar gerakan ini dapat lebih mengigit dan kekinian. Mengambil istilah vulgar yang sering dikonotasikan secara negatif, frase SAKALI SANAMI berupaya untuk tampil secara positip dengan pembaharuan makna berikut : SAKALI berarti gerakan Literasi harus bisa membuat Sakau Literasi. Sakau berarti ketergantungan, jadi Literasi harus bisa membuat orang yang ada dalam komunitasnya memiliki ketergantungan untuk bisa menularkan bahwa Literasi adalah sebuah jendela pengetahuan dan informasi dunia

SANAMI, setelah sakau maka Literasi pun harus bisa menggila di dalam Syaraf Nadi komunitas Literasi, dimana Syaraf itu akan menjadi denyut yang menggerakan tubuh Literasi kemanapun akan dibutuhkan. SANAMI kedua menjadikan Literasi ini tsunami yang menggelombang dan menggulung Ekosistem baru yang haus akan Literasi sebagai fashion dan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang terintegrasi pengetahuannya secara Paripurna.

Itulah intinya kata SAKALI SANAMI. Dan ini adalah sebuah ikhtiar dalam menjadikan Literasi sebagai life style generasi muda menuju Ekosistem baru pendidikan Paripurna. Ayo jadikan SAKALI SANAMI sebuah gerakan kekinian literasi.

Salam SAKALI SANAMI!!!