Guru Bukan Satu-satunya Indikator Sekolah Ramah Anak

BANDUNG- Pelayanan guru saat kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak menjadi satu-satunya indikator Sekolah Ramah Anak (SRA). Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Netty Prasetiyani Heryawan mengatakan banyak lagi indikator lainnya yang harus dipenuhi untuk menjadi SRA.

“Dengan adanya sekolah ramah anak, bukan berarti hanya bapak ibu guru yang ramah. Harus memahami tiga unsur yang harus kita bangun untuk menyelenggarakan sekolah ramah anak,” ujarnya seusai deklarasi SRA di Gedung Bhayangkara Jalan Cicendo, Bandung pada Kamis (21/12/2017). 

Netty menuturkan SRA bukanlah suatu program yang instan. Perlu adanya tekad dan kemauan dari semua pihak untuk mewujudkannya. Ada tiga unsur penting yang dapat mewujudkan SRA. Unsur pertama antara lain perangkat keras di sekolah seperti kelayakan dan keamanan bangunan sekolah untuk peserta didik, jumlah toilet yang rasional dengan jumlah siswa-siswi, hingga kebersihan makanan di kantin. 

“Kita harus mewujudkan sebuah proses pendidikan, sebuah tempat di mana anak-anak mendapatkan ilmu baru dan pengetahuan baru, benar-benar ramah anak. Dari bangunannya. Dari tolietnya, dari ruang kelasnya, termasuk juga dari papan tulisnya. Kemudian, perpustakaan, laboratorium, hingga kantin,” paparnya. 

Unsur kedua adalah perangkat lunak, yaitu kurikulum. Kurikulum memang sudah diatur oleh pemerintah pusat, tapi penyampaiannya di sekolah tidak perlu memberatkan peserta didik.

Unsur yang terakhir adalah brainware. Netty menuturkan sekolah adalah tempat siswa berinteraksi antar satu dengan lainnya. Interaksi di sini pun dilakukan oleh kepala seklah, guru-guru hingga masyarakat lainnya. 

“Saya melihat yang paling mudah untuk kita membuat sekolah kita menjadi SRA adalah aspek brainware. Ada perubahan paradigma, pola pikir, sikap dan perilaku dari para kepala sekolah, guru dan peserta didik,” jelasnya. 

Netty juga menegaskan SRA ini sangat penting untuk melahirkan calon pemimpin masa depan dan calon anak bangsa yang sukses. 

“Hari ini kita berpacu dengan waktu, kalau kita tidak ingin menjadi tamu dan penonton di negeri sendiri. Maka, sudah saatnya hari ini kita jadikan sekolah di Jawa Barat sebagai sekolah ramah anak,” ucap Netty.