Ambu Rita (3) : Memahami dan Mendorong Minat Baca Indonesia
Ambu Rita
Ambu Rita (3) : Memahami dan Mendorong Minat Baca Indonesia
Oleh Nizar Al Fadillah, Sumber berita dari Dinas Pendidikan Jawa Barat
12 September 2018, 13:32 WIB    37 views       Headline

BANDUNG, DISDIK JABAR – Selain menggeluti hobi dan mewujudkan mimpinya untuk memiliki perpustakaan dan menggalakan gerakan literasi baca sejak dini, Ambu juga terdorong oleh keadaan di masyarakat Indonesia yang sampai saat ini masih memiliki minat baca yang rendah.

Melansir kumparan.com, menurut data statistik dari UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah. Peringkat 59 diisi oleh Thailand dan peringkat terakhir diisi oleh Botswana. Sedangkan Finlandia menduduki peringkat pertama dengan tingkat literasi yang tinggi, hampir mencapai 100%. Data ini jelas menunjukkan bahwa tingginya minat baca di Indonesia masih tertinggal jauh dari Singapura dan Malaysia. 

Kemudian, mengutip data penelitian yang dilakukan United Nations Development Programme (UNDP), tingkat pendidikan berdasarkan Indeks Penmbangunan Manusia (IPM) di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu 14,6%. Persentase ini jauh lebih rendah daripada Malaysia yang mencapai angka 28% dan Singapura yang mencapai angka 33%.

Ambu mengatakan, ada banyak faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat, salah satu yang paling dominan adalah faktor lingkungan dan budaya. “Ada banyak faktornya, namun Ambu rasa yang paling dominan adlaah faktor lingkungan, seperti keluarga dan budaya membaca di Indonesia sendiri,” ucap Ambu.

Ambu memberi analogi sederhana tentang budaya baca yang tak dilanggengkan di dalam ranah keluarga. Hampir semua orang tua menyuruh anaknya untuk mandi setiap hari dengan membeberkan kebaikan yang akan didapat jika seseorang mandi, seperti menjadi lebih sehat, bersih dan wangi. 
Dan jika tidak, mereka akan dinasehati bahkan dimarahi jika tidak mandi. Budaya menyuruh mandi ini telah mengakar di masyarakat, sehingga ketika si anak bertumbuh remaja juga dewasa, mereka sadar betapa pentingnya mandi. 

Hal serupa tak berlaku dalam aktivitas baca, karena keluarga tak membiasakan, mewajibkan atau menuntut anggota keluarga untuk membaca. “Dan kita tak bisa menyalahkan keluarga, karena memang ini sudah berjalan dari dulu, mungkin dari atasnya (leluhur) sudah seperti ini. Jadi ini bukan sesuatu yang harus kita salahkan,” tutur Ambu.

Sehingga, penanaman tentang pentingnya literasi baca dapat dimulai sedini mungkin karena kita semua sekarang sudah mengerti betapa pentingnya literasi baca bagi anak sebagai generasi selanjutnya.
Itu pun harus ditunjang oleh fasilitas sarana dan prasana penyedia buku. Dalam hal ini bisa berbentuk perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah maupun lewat tangan pegiat literasi seperti Taman Baca Masyarakat (TBM). Ambu menuturkan ada banyak pegiat literasi yang bergerak sukarela atas dasar kesadarannya untuk menularkan minat baca terhadap masyarakat dengan cara yang mandiri.

”Kurang lebih di Jawa Barat ada 73 TBM. Selain ambu, ada juga pegiat literasi seperti Tukang Tahu yang selalu membawa buku ketika berjualan, ada yang naik perahu, naik kuda dan bahkan juga tukang es,” ucap Ambu.  Lewat TBM inilah, Ambu dan pegiat literasi lainnya berusaha mengunggah minat baca masyarakat sedini mungkin untuk minat baca yang lebih tinggi.  ***


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar