Hari Wibisono (1) : Melawan Masa Muda dengan Pencak Silat
Hari Wibisono
Hari Wibisono (1) : Melawan Masa Muda dengan Pencak Silat
Oleh Nizar Al Fadillah, Sumber berita dari Dinas Pendidikan Jawa Barat
13 September 2018, 07:45 WIB    259 views       Headline

BANDUNG, DISDIK JABAR – Beradaptasi dengan lingkungan yang baru tak selalu berjalan mulus. Itulah yang dirasakan Hari (58) saat duduk di bangku SMP Silam. Ayahnya yang seorang Tentara terpaksa pindah dari Jalan Emong, Karapitan ke Kompleks Tentara di Gegerkalong tahun 1975. Alih-alih nyaman, Hari kecil dan kawan-kawannya di komplek baru mendapat intimidasi dari anak-anak komplek lama.

Bogem mentah dan intimidasi acapkali dirasakan Hari dan kawannya. Awalnya mereka tak memilih melawan, namun lambat laun mereka tak bisa menerima keadaan yang terus seperti ini. “Awalnya kami sebagai anak baru tentu takut dan selalu mengalah. Namun lama-lama kami enggak terima kalau dibeginikan terus,” tutur Hari mengenang.

Ia pun mengajak kawannya untuk mempelajari Karate, ilmu beladiri asal Jepang yang saat itu sedang populer. Namun salah satu kaka kelasnya menyarankan mereka untuk latihan berkelahi daripada mengikuti pelatihan karate. Tanpa meminta persetujuan, kaka kelasnya  mengenalkan Hari kepada Djajat Koesoemadinata, Pendiri Perguruan Silat Tadjimalela.

Seminggu kemudian, Hari dan kawannya datang ke salah satu gedung olahraga yang sudah tak terpakai di kompleksnya. Kaka kelasnya berkata mereka akan menemukan pelatih disana. Saat masuk, Hari tak menyadari ada sesosok laki-laki dengan rambut gondrong, kucel dan mengenakan celana kolor, sedang jongkok di sudut ruangan. Ketika Hari menyeru agar mereka kembali pulang, sosok laki-laki tersebut pun langsung berdiri dan memaki mereka.

“Kami diintimidasi lagi, tapi rasanya beda. Ada kekaguman yang kami rasakan. Setelah hari itu, kami mulai berlatih beladiri bersama beliau. Latihannya enggak bermetode, ortodok, tapi sangat mengena,” kenangnya.

Setelah sebulan berlatih, Hari ingin menunjukan kepiawaiannya dalam beladiri. Meski sudah diwanti oleh Djajat untuk tidak memulai berkelahi, namun Hari tetap mengikuti insting remajanya. Tepat setelah pulang sekolah, Hari dan kawannya dijegat di jalan oleh anak kompleks lama.

Namun sekarang hasilnya berbeda, Hari dan teman-temannya mampu memberi perlawanan dan membuat anak kompleks lama tunggang langgang. Sejak saat itu, mereka melakukan ‘genjatan senjata’ dan tak berani menyerang. Dan sejak saat itu pula, Hari mulai mencintai dan mendalami ilmu beladiri pencak silat.

Sepenggal kisah tersebutlah yang membuat Hari Wibisono menggeluti dunia pencak silat sampai sekarang. Ia adalah guru sekaligus satu dari sepuluh wasit Indonesia yang diberi kepercayaan untuk menjadi wasit dalam cabang olahraga pencak silat di ajang Asian Games 2018 lalu.  

“Alhamdulillah saya bersyukur bisa menjadi bagian dari Asian Games, mewakili nama Indonesia sebagai wasit. Karena dalam ajang olahraga, bukan hanya atlet dan pelatih yang menjadi figur, wasit pun berperan vital,” ungkap Hari saat ditemui di SMAN 13 Bandung, Jalan Cibeuruem, Kota Cimahi, Senin 10 September 2018.

Di Asian Games 2018 pula cabor pencak silat menjadi lumbung medali emas bagi Indonesia. 14 medali emas sukses dimenangi oleh atlet pencaksilat. Beserta 1 perunggu, Indonesia berhasil menjadi juara umum dalam olahraga beladiri ini. “Raihan emas ini luar biasa. Program pelatihan yang matang sudah disiapkan sejak tiga tahun lalu berbuah hasil. Kita mempersiapkan cabor pencak silat dengan sebaik-baiknya.

Kita enggak mau dipermalukan sebagai salah satu negara pendiri pencaksilat,” tutur Hari yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 13 Bandung tersebut.***


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar