Enam Aspek yang Harus Dimiliki Sekolah untuk Menciptakan Lingkungan Mental yang Sehat
Enam Aspek yang Harus Dimiliki Sekolah untuk Menciptakan Lingkungan Mental yang Sehat
Oleh Nizar Al Fadillah, Sumber berita dari Dinas Pendidikan Jawa Barat
10 Oktober 2018, 16:48 WIB    89 views       Headline

BANDUNG, DISDIK JABAR – Dalam memperingatai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober, Federation Of Mental Health, Organisasi Kesehatan Jiwa Dunia, menatapkan tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia kali tahun ini adalah “Young People in a Changing World”.  

Menurut Ketua Komunitas Kesehatan Masyarakat Jawa Barat, Teddy Hidayat, tema ini diambil karena remaja dewasa kini dihadapkan dengan era Changing World, era perubahan dunia, baik dalam segi ilmu pengetahuan, informasi, komunikasi, budaya dan gaya hidup. Jika tidak diiringi dengan ketahanan jiwa yang baik, hal tersebut dapat menjadi gejala awal dari gangguan jiwa seperti depresi.

Berangkat dari sana, Teddy menyoroti pentingnya peran lembaga pendidikan untuk dapat menciptakan lingkungan mental yang sehat bagi siswa. “Sekolah memiliki peran yang penting karena disana anak-anak memiliki lingkungannya sendiri, tempat bersosialiasisinya sendiri. Itu harus jadi fokus lembaga pendidikan untuk membangun kesehatan jiwa selain mencerdaskan di ranah kognitif,” ucap Teddy saat ditemui di Kafetaria Kebon Binatang, Tamansari, Kota Bandung, 10 Oktober 2018.

Dilansir Pijarpsikologi.org,  organisasi yang bergeerak di bidang isu kesehatan mental dan psikologi, dalam tulisannya yang berjudul “Mempercayakan Kesehatan Mental Murid Pada Sekolah?”    memaparkan enam aspek yang harus dimiliki sekolah untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi mental siswa.

1. Bimbingan berkualitas dari pihak pengajar.

Melalui pihak pengajar (pimpinan dan para guru) memberikan bimbingan tentang keterampilan-keterampilan sosial (social skills), mengajarkan tentang hidup demokratis dan berteman secara sehat. Sebagian siswa bahkan mungkin belum memiliki konsep jelas tentang peranan sosial pria atau wanita dalam lingkungan masyarakat. Siswa pun butuh mengetahui bagaimana mereka menempatkan diri dalam lingkungan sosial.

2. Kerja sama dari pihak pengajar

Peran guru adalah sebagai pengganti orang tua di sekolah. Mereka memegang sebagian besar tanggung jawab dalam mendidik siswa/siswi. Dalam membentuk sebuah kondisi mental yang baik bagi siswa, kerja sama dari pihak pengajar sangat diperlukan. Guru yang sering memberikan ancaman, hinaan, ataupun pendapat-pendapat yang menjatuhkan tentunya tidak membantu pengembangan kondisi mental sama sekali. Untuk itu, kerja sama dari pihak pengajar bisa dalam bentuk pemberian motivasi, inspirasi, pengertian, dan hal-hal baik lainnya.

3. Fasilitas yang menunjang minat dan bakat siswa.

Kegiatan sekolah seperti ekstrakurikuler sangat membantu siswa dalam menyalurkan minat dan bakat mereka. Terkadang kenakalan remaja yang terjadi adalah bentuk dari kurangnya wadah bagi siswa untuk mencurahkan energi dan aspirasinya. Minat dan bakat siswa yang tersalurkan dengan baik dapat mengalihkan perhatian mereka dari pengaruh negatif pergaulan bebas.

4. Keseimbangan aspek kehidupan

Dalam mengembangkan kondisi mental yang stabil, sekolah perlu mengatur waktu dengan seimbang. Siswa memerlukan istirahat yang cukup dan kondisi belajar-mengajar yang santai namun efektif. Pihak sekolah juga perlu memperhatikan asupan gizi dan nutrisi yang dikonsumsi oleh para siswa/siswi-nya. Ditambah proporsi tugas rumah yang wajar dan waktu olahraga yang teratur.

5. Sumber informasi tentang kesehatan mental

Banyak masyarakat bahkan siswa yang tidak cukup sadar akan adanya kondisi-kondisi mental tertentu dalam masyarakat. Mungkin mereka tidak pernah menyangka bahwa ada seseorang dengan gangguan kecemasan, paranoid, OCD, bahkan fobia di sekeliling mereka. Pengetahuan tentang kesehatan mental ini juga dapat membuat para siswa sadar (aware) akan kondisi teman-teman mereka atau diri mereka sendiri.

6. Tempat aman bagi siswa untuk cerita

Tidak jarang para siswa/siswi memiliki masalahnya sendiri. Entah itu masalah dengan orang tua, teman, ataupun yang berkaitan dengan kepribadiannya sendiri. Masalah-masalah ini tidak jarang mempengaruhi kualitas belajar dan kemampuannya dalam berprestasi maupun bersosialisasi. Siswa/siswi tersebut membutuhkan sebuah tempat yang aman bagi mereka untuk mencurahkan isi hatinya. Tempat aman untuk bercerita ini sangat krusial karena berurusan dengan kepercayaan (trust) antara siswa dan pihak yang melakukan konsultasi. Usahakan segala hal yang bersifat privasi dapat terjaga dengan baik bahkan di kalangan pihak pengajar.

Pijar Psikologi menganalogikan, Siswa di sekolah bagaikan ulat dalam kepompong yang menunggu waktunya untuk terbang. Dalam sekolah itulah siswa menghabiskan waktunya untuk mengembangkan diri secara fisik dan mental, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas dan siap untuk ‘terbang’.***


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar