Budidaya Jeruk Dekopon, Sekolah Mampu Mandiri

BANDUNG- Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) selayaknya menjadi wirausahawan sejak dini. Tidak hanya itu, SMK juga mampu memberikan nilai tambah bagi sekolahnya dari kemampuan sekolah berinovasi.

Berwirausaha merupakan target dari SMK Pertanian Pembangunan Negeri Lembang yang terletak di Jalan Raya Tangkuban Perahu, Cilumber Lembang Kab. Bandung Barat. Selain melatih siswa menjadi wirausahawan, sekolah juga berupaya mencari kemandirian dengan inovasi.  

Kepala SMK PP Negeri Lembang Siti Sadiah Yuningsih memiliki harapan besar bila sekolah mampu membudidayakan jeruk Dekopon, jeruk yang dikonsumsi di Jepang. Pasalnya, kondisi tanah di Lembang baik untuk tanaman jeruk Dekopon.   

Selama setahun terakhir, jeruk Dekopon itu dibudidayakan di sekolah yang dipimpin Yuyun. Bibit dibeli dari salah seorang petani bibit di daerah Cikole, Lembang. Sebanyak lebih dari 70 bibit tanaman ia beli dengan harga satuan Rp 750.000.  

Untuk melihat pertumbuhannya, separuh bibit jeruk ditanam di rumah kaca (green house). Kebetulan, kata Yuyun, rumah kaca tersebut baru diperbaiki dengan dana bantuan. Separuh lagi, ditanam di halaman rumah dinas.   

Rupanya, bibit yang ditanam di rumah kaca cepat berkembang. Besar buah cukup maksimal hingga 800-1.200 gram tiap buahnya. Tapi, tanaman rentan diserang hama. Yang ditanam di luar rumah kaca justru kebalikannya. Namun soal rasa buah, tidak ada yang berbeda. Buahnya memiliki bulir yang besar dan rasa manis keasam-asaman.   

Yuyun mengklaim sekolahnya merupakan satu-satunya sekolah yang membudidayakan jeruk Dekopon. Yuyun memiliki alasan kuat terus mengembangkan budidaya jeruk Dekopon. Ia bahkan berkeinginan, jeruk ini akan menjadi ciri khas Lembang.   

Peluang usaha diakui Yuyun sudah tampak setelah peneliti dari Jepang menawarkan kerja sama ekspor jeruk Dekopon. "Bahkan permintaannya satu ton tiap bulannya," ujar Yuyun ketika dihubungi melalui WA Messenger, Selasa 5 September 2017. 
 

Bila mampu mengekspornya, sekolah akan menjadi mandiri dan tak perlu meminta dana kepada orang tua siswa. Ia menyebutkan dari satu pohon, bisa menghasilkan 30 buah jeruk Dekopon. Harga tiap kilogramnya dapat mencapai hingga Rp 100.000.   

Dengan asumsi dari 70 pohon akan menghasilkan 30 buah dengan rata-rata berat per buah 1 kg, maka satu kali panen dapat mengantongi Rp 210.000.000. Sedangkan dalam satu tahun, bisa dua kali panen.   

Dengan besaran pendapatan Rp 400 juta dari jeruk Dekopon, sekolah tidak hanya tidak akan membebani siswa dengan uang sekolah, tapi sekolah mampu membangun infrastruktur untuk mendukung proses pembelajaran.   

Yuyun juga meyakini dengan melihat keuntungan yang besar itu, akan mampu menarik minat generasi muda untuk menekuni bidang pertanian. Saat ini, citra petani hanya melakukan hal yang susah dan tidak menyenangkan.   

"SMK pertanian harus mengubah imej itu bagaimana bertani yang menyenangkan. Dilatih jadi petani berdasi," ucapnya.  

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan Dinas Pendidikan Jawa Barat Dodin Rusmin Nuryadin menyebutkan SMK pertanian memang harus mampu membentuk karakter petani modern. Ia mengaku minat generasi muda terhadap pertanian saat ini lemah. Mereka lebih memilih bidang lain yang dinilai lebih menjanjikan. (Dewiyatini)